Main Menu
Send free & cheap SMS's every day! Sign up quick and free @ SMScity Coppermine Statscoppermine
· Views: 129 · Votes: 4 · Comments: 6 |
Cyber WarModel Perang Dingin Modern? Perang di dunia cyber tampaknya semakin menjadi alternatif dari perang sesungguhnya. Mungkin, masih dalam rangka perang dingin, istilah yang populer antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet (sekarang Rusia), namun perang via Internet memiliki keunikan sendiri sebagai sebuah patriotisme yang membela negaranya versi online. Kalau perang secara terbuka tidaklah memungkinkan, mungkin perang tanpa mesin "pencabut nyawa" inilah yang masih cocok. Keusilan dan kenakalan hacker yang tersebar di seluruh dunia bisa berlaga di arena ini. Minimal menjadikan target serangan (keusilan) sekaligus njajal kesaktian dengan lawan-lawannya negaranya. Dalam kondisi ini, nasionalisme para hacker terhadap negaranya, benar-benar tertantang. Ini merupakan bukti bahwa para hacker masih memiliki nasionalisme terhadap bangsanya menggunakan segala kemampuannya menerobos, melumpuhkan, dan lain-lain hingga tidak saja menjadikan kepuasan tersendiri sekaligus membuat malu musuh-musuhnya, layaknya perang dingin yang telah lama dijalankan AS lawan Rusia . Melalui Internet, sebagai model baru aksi serang modern, yang tidak dibatasi jarak dan waktu, benar-benar terjadi. Tentu, dengan model seperti ini menyebabkan ketakuatan yang luar biasa bagi perusahaan besar yang membawa bendera negara yang sedang bersengketa, meski sebenarnya tidak tahu apa-apa atau tidak memiliki kepentingan politik. Mengapa? Terkadang hacker tidak pandang bulu. Mungkin yang menjadi target utama selain kepuasan sanggup menerobos masuk, membuat malu musuh-musuhnya, apalagi melumpuhkan dengan cepat pula akan menyiarkan melalui media onlinenya tanpa perlu media lain atau waktu-waktu penyiaran tertentu. Masih hangat dalam ingatan, setelah perang cyber Palestina melawan Israel, selanjutnya giliran para hacker Pakistan membobol situs-situs India. Akibatnya, Desember tahun 2000, situs zeetv.com jebol. Selain memasukkan pesan-pesan seputar Kashmir di situs tersebut, sang hacker juga memasukkan beberapa link menuju tulisan-tulisan yang menghujat pemerintah dan angkatan bersenjata India. Meski, situs zeetv.com sebenarnya bukan milik Zee Telefilms, jaringan televisi terbesar di India, tapi miliki oleh seorang cybersquatter. Dan menurut The Economic Times kala itu, hacker Pakistan ini sebenarnya ingin membobol situs resmi Zee TV tapi salah sasaran atau diistilahkan sebagai "tersesat di hutan cyber". Tidak tanggung-tanggung, pembobol situs itu diketahui berasal dari kelompok hacker "G Force", salah satu kelompok hacker kondang di Pakistan, sebuah negara Islam yang banyak dikaruniai "pasukan" Hacker. Kelompok ini tercatat sebagai kelompok hacker paling yang aktif membobol situs-situs India termasuk situs Konggres Sains India, The Asian Age, Pusat Riset Nasional India, Universitas Pertanian Maharastra, Institut Manajemen Ahemdabad, situs Pemerintah Daerah Gujarat, GlaxoWellcome, Pusat Desain Elektronik dan Teknologi India, Institut Teknologi Madras dan situs Promosi Teknologi Informasi Nasional India. Kelompok hacker yang kedua teraktif dipimpin Doctor Nuker, seorang hacker senior pendiri Pakistan Hackers Club. Kelompok ini tercatat telah membobol situs parlemen India, Ahemdabad Telephone Exchange, Dewan Promosi Ekspor Teknik dan situs PBB perwakilan India. Kelompok ketiga teraktif berjejuluk "Nightman". Kelompok ini telah membobol beberapa situs milik pemerintah dan perusahaan swasta India. Situs-situs yang berhasil di-deface di antaranya Akademi Administrasi Nasional Lal Bahudar Shashtri, lue Star Infotech dan Mahindra & Mahindra. Bahkan, setidaknya The Economic Times mencatat sudah 40 situs India dibobol oleh kelompok-kelompok hacker asal Paksitan itu. Lumpuhkan e-Commerce Menurut prediksi salah seorang pengamat CyberCrime dunia, CyberWar ini akan bisa melumpuhkan sistem e-commerce seluruh dunia, karena para hackerpun akan memanfaatkam momen ini untuk berlomba menghacker situs-situs penting, dan para hackerpun akan berlindung di balik konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sementara itu situs Internet Lucent Technology, yang merupakan perusahaan di New Jersy Amerika Serikat telah Internet Lucent Technology menjadi korban dari keganasan CyberWar. Situs Internet Lucent Technology yang dijadikan target dari hacker pro-Palestina ini di karenakan perusahaan ini juga berbisnis dengan Israel. Benz Venske, Direktur Intelligence production iDefense berpendapat, bahwa diperkirakan masih banyak lagi perusahaan Amerika yang menjadi daftar target oleh hacker pro-Palestina. Situs Internet Lucent Technology ini diserang dengan menggunakan Defend tool, dimana program ini mirip dengan flood Net yang digunakan pemberontak Zapatista saat melawan pemerintahan Mexico sewaktu perang saudara," ujar Venzke Defend tools ini sangat berbahaya sekali, karena program ini bisa me-refresh situs tersebut setiap 2,5 detik sekali, dan bisa mengakibatkan situs itu menjadi hang. Sejauh ini, pro-Palestina telah menyerang 30 situs, sedangkan pro-Israel telah menyerang 15 situs, demikian pernyataan yang dikeluarkan iDefense. Venzke memperingatkan bahwa agen pemerintahan dan bisnis di AS harus mempersiapkan dirinya sejalan dengan meningkatnya konflik yang sering melibatkan negeri paman Sam itu Source: komputekonline.com Posted by m4rt3n Friday, January 30, 2004 (23:00:00) |
Related Links
![]() Article Rating
![]() Votes: 2 ![]() Options
![]() User Menu
![]()
|
